Forests, Farms & Finance Initiative

Negara dan kawasan yang diwakili dalam Forests, Farms & Finance Initiative. 

Sejumlah tantangan besar yang kini dihadapi bangsa dan masyarakat di negara berkembang meliputi perusakan hutan tropis dan ekosistem asli lainnya yang mengakibatkan emisi CO2 dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer, erosi dan hilangnya tanah, degradasi dan semakin habisnya sistem penyaluran air tawar, serta terganggudan terusirnya masyarakat adat, komunitas tradisional, dan petani kecil. Hal initerjadi seiring perluasan sistem produksi pertanian dan peternakan “secara horizontal” melalui konversi hutan dan mengakibatkan terjadinya konflik lahan.

Forests, Farms and Finance Initiative (3FI) berupaya menjawab masalah tersebut dengan mengaitkan insentif untuk produksi komoditas pertanian secara lebih ramah lingkungan dan masyarakat, dengan inisiatif untuk mengurangi deforestasi dan degradasi lingkungan lainnya.

Saat ini, berbagai inisiatif rantai pasokan berkelanjutan, kebijakan domestik dan keuangan, serta program terkait REDD+ guna meningkatkan produksi pangan sambil menjaga keutuhan hutan dan menurunkan emisi karbon di daerah tropis, berjalan sendiri-sendiri sehingga skala intervensinya, ukuran kinerjanya, dan upaya pengaturan perilaku pengguna lahannya berbeda-beda. Akibatnya, para petani hanya menerima sedikit, itu pun jika ada, insentif untuk tidak membuka hutan secara legal dan untuk berinvestasi pada sistem produksi yang lebih berkelanjutan.

  • Negara-negara dalam Forests, Farms & Finance Initiative memproduksi 17% dari daging sapi dunia dan 31% dari kedelai dunia.

  • Lebih dari 1 juta metrik ton kedelai bersertifikat, 6 juta metrik ton minyak kelapa sawit bersertifikat, dan 55 metrik ton tebu bersertifikat yang diproduksi pada 2012.

  • Forest Tutupan Hutan di negara-negara yang menjadi fokus 3FI rata-rata hampir 50%.

Strategi

Forests, Farms and Finance Initiative graph

Insentif untuk produksi secara berkelanjutan, baik dengan maupun tanpa pendekatan kinerja teritorial. Petani yang beroperasi sendiri-sendiri dihadapkan dengan berbagai permintaan dari lembaga regulasi, pembeli komoditas, dan institusi keuangan, tetapi tidak menerima insentif yang berarti guna memperlambat deforestasi. (Sumber: Nepstad et al. 2014 Science 344)

Setiap strategi yang disesuaikan berdasarkan daerah masing-masing ditujukan untuk mencari kesepakatan bersama pada target tertentu untuk mengurangi deforestasi, meningkatkan produktivitas pertanian, dan meningkatkan penghidupan petani kecil di setiap yurisdiksi atau wilayah target, sambil merancang sistem insentif dan wadah pemantauan guna mencapai target tersebut. Strategi tersebut didorong oleh berbagai macam konsorsium yang mencakup lembaga swadaya masyakarat (LSM), roundtable komoditas utama (Round Table for Responsible Soy, Roundtable on Sustainable Palm Oil, Bonsucro, dan Global Roundtable for Sustainable Beef), perusahaan swasta, dan pemerintah daerah. Setiap mitra dalam konsorsium tersebut mengkontribusikan keahlian unik dan jaringannya masing-masing untuk mengajak sektor pertanian, institusi keuangan, pedagang, pembeli komoditas, pemerintah, dan masyarakat agar masuk dalam proses membangun konsensus dengan pendekatan dari bawah-ke-atas (bottom-up).

Studi Kasus

Pekerjaan Yang Berhubungan