“Masyarakat adat dan pemerintah daerah…adalah seperti akar pohon kayu merah”


Pada suatu pagi yang berkabut di bulan Agustus, saya bergabung bersama 30 pemimpin masyarakat adat dan lokal, pegawai pemerintah daerah, dan perwakilan masyarakat sipil di depan sebuah pohon kayu merah tua di Kalifornia Utara untuk mengucapkan Wokhlew, yang berarti “terima kasih” dalam bahasa berusia ratusan tahun milik suku Yurok yang berbasis di Klamath, Kalifornia.

Upacara pengucapan syukur ini dilaksanakan pada akhir pertemuan perdana empat hari Kelompok Kerja Masyarakat Adat dan Lokal Satuan Tugas Gubernur untuk Iklim dan Hutan (GCF)1. Tujuan kelompok kerja ini adalah untuk menemukan cara-cara yang lebih baik dan lebih cepat untuk mengakui hak atas tanah dan hak asasi manusia masyarakat adat dan masyarakat sekitar hutan serta untuk mereplikasi kemitraan pemerintah-masyarakat yang telah diawali di Negara Bagian Acre, Brasil, dan Kalifornia, AS.

Masyarakat adat dan lokal adalah penjaga hamparan hutan tropis yang sangat luas, yang seringkali harus mereka pertahankan dari orang-orang luar yang menginginkan lahan, kayu, atau sumber daya mineral. Sementara masyarakat-masyarakat sekitar hutan ini semakin diakui sebagai mitra utama dalam menjaga hutan, seringkali pemerintah justru masih berjibaku dalam mengakui hak-hak mereka, berkonsultasi secara memadai dengan mereka, dan membantu mereka untuk meningkatkan taraf hidup mereka sebagaimana yang telah kami rangkum dalam laporan terbaru kami

Cándido Mezua, anggota suku Embera di Panama dan perwakilan Aliansi Masyarakat dan Hutan Mesoamerika mengatakan bahwa “Peluang keterwakilan masyarakat adat di dalam kelompok kerja ini adalah peluang untuk mempengaruhi kebijakan perubahan iklim. Inisiatif Kelompok Kerja ini adalah inisiatif yang mengakui hak-hak, mengakui partisipasi, membangun kapasitas, dan mendorong aksi bersama – tidak hanya di antara masyarakat adat dan pemerintah sub-nasional, tetapi juga dengan seluruh anggota masyarakat lainnya.”

Di pertemuan tersebut, para peserta dari Amerika Selatan, Amerika Tengah, Indonesia, dan Kalifornia berbagi kisah kemitraan yang sukses di antara masyarakat adat, masyarakat lokal, dan pemerintah sub-nasional untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang inklusif. Dari Suku Yurok, kami belajar dari tangan pertama mengenai kesuksesan kemitraan mereka dengan Kalifornia melalui program cap-and-trade [batasan-dan-perdagangan] negara bagian yang memungkinkan suku tersebut untuk menjual kredit karbon dari lahan hutan yang dikelola secara berkelanjutan. Suku ini juga menggunakan keuntungan yang diperoleh dari program tersebut untuk meraih kembali lahan mereka dan juga berbagai artefak budaya mereka, salah satunya adalah keranjang upacara adat.

Kami membuat konsep strategi awal untuk aksi bersama, menggabungkan upaya untuk mitigasi perubahan iklim dengan tujuan untuk mengakui hak-hak masyarakat adat dan hutan, meningkatkan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan, dan mendapatkan bagian pendanaan yang adil untuk mengakui peran mereka sebagai “penjaga hutan.” Untuk memandu berbagai aksi ini, kami merancang seperangkat prinsip dasar kolaborasi di antara pemerintah sub-nasional dan pemimpin masyarakat adat dan lokal, yang mencakup elemen-elemen inti seperti penghormatan dan pengakuan atas hak, dan penghormatan atas serta implementasi perjanjian-perjanjian internasional yang mengakui dan mengamankan hak-hak masyarakat adat, budaya, serta hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, misalnya Perjanjian Paris, Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Masyarakat Adat (UNDRIP) dan Kerangka Pengaman Cancun.

Magaly Medeiros, delegasi GCF dari negara bagian Acre, Brasil, yang juga Presiden Institut Acre untuk Perubahan Iklim mengatakan, “Pertemuan di antara pemerintah dan masyarakat adat bersama perwakilan masyarakat sipil adalah momen untuk mendekatkan kami semua sehingga GCF dan komitmen-komitmen yang dihasilkannya akan menjadi lebih kuat. Hal tersebut dapat membantu kami untuk memperkuat dan menjalankan berbagai komitmen yang telah kami buat terhadap masyarakat tradisional dan masyarakat adat.”

Kredit: Matt Colaciello, pendongeng multimedia, The Global Workshop.

Di sekeliling pohon kayu merah, kami mengucapkan terima kasih kepada satu sama lain untuk kesempatan menjadi mitra dalam sebuah misi bersama untuk melindungi hutan dunia, meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat di mana kami tinggal, dan mendorong terbentuknya masyarakat yang adil dan setara. Dan kami berterima kasih kepada Suku Yurok yang telah menyambut kami dan berbagi perjuangan dan kisah keberhasilan mereka.

Sebelum kami berpisah, Rukka Sombolinggi, Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) berbagai hasil refleksinya bahwa “Kerja ini bukan hanya untuk masyarakat adat, tetapi untuk kita semua. Tujuan kita adalah untuk mencapai titik di mana kita dapat meninggalkan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang. Saya melihat bahwa kelompok ini mulai menuju ke titik tersebut – di mana masyarakat adat, masyarakat lokal, dan pemerintah bekerja bersama-sama, karena itulah kerja yang nyata. Saya berharap bahwa kita telah menyalakan sebuah lilin, bahwa kita telah menginspirasi orang-orang lain…bahwa kita dapat mengandalkan satu sama lain, bahwa kita dapat bekerja bersama-sama, bergandengan tangan, seperti akar pohon kayu merah.”

1 Selama beberapa tahun terakhir, Earth Innovation Institute telah bekerja sama dengan GCF, jejaring 35 pemerintah sub-nasional yang berdedikasi untuk memitigasi perubahan iklim dan mendorong keberlanjutan, serta berbagai organisasi besar di wilayah tropis untuk mengintegrasikan perwakilan masyarakat adat dan lokal ke dalam diskusi, strategi, dan inovasi di dalam GCF dan wilayah-wilayah anggota mereka.