2019
Okt

T & J: Kebakaran di Indonesia harus menjadi ‘perhatian tiap tahun, bukan hanya pada tahun-tahun buruk saja’

Kebakaran yang terjadi di sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera di Indonesia diperkirakan telah melalap sekitar 328.000 hektare hutan dan lahan gambut sejak Agustus. Kobaran api dari wilayah yang terbakar menciptakan awan dan kabut asap yang menyelimuti berbagai wilayah metropolitan, termasuk Singapura dan Kuala Lumpur, serta membahayakan kesehatan hampir sejuta orang. Kebakaran tersebut terjadi hanya dalam selang waktu satu bulan setelah api meluluhlantakan bentang hutan Amazon di Brazil pada bulan Agustus. Para peneliti EII, Nindita Hapsari dan Triyoga Widiastomo di Jakarta serta Matt Warren di San Francisco mengatakan bahwa kedua kejadian kebakaran tersebut menunjukkan pentingnya strategi jangka panjang yang lebih berfokus pada pencegahan kebakaran daripada penanggulangan kebakaran.

Fires consume deforested peatlands in Riau, Sumatra. (Credit: Matt Warren)

Setiap kali terjadi tahun kebakaran yang buruk, yang kita lihat adalah reaksi terhadap keadaan darurat tersebut, bukannya langkah-langkah untuk mencegah munculnya keadaan darurat itu sendiri. Alih-alih memfokuskan diri pada penyadaran publik untuk mencegah dan memperbaiki upaya penanganan kebakaran, yang saat ini menjadi fokus adalah mengkriminalkan penggunaan api. Sejak tahun 2015, Presiden Indonesia, Joko Widodo, mengumumkan dalam berbagai kesempatan bahwa kepala polisi dan komandan militer daerah yang gagal mengendalikan kebakaran di daerah mereka akan dicopot. Pendekatan penegakan hukum yang sama masih diberlakukan sampai sekarang.

Bagaimana Anda menggambarkan respons terhadap kebakaran di Indonesia?

Pendekatan penanganan kebakaran yang lebih sistemik sedang dikembangkan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG), sebuah badan yang didirikan pemerintah Indonesia pada tahun 2016 dan diberi mandat untuk memulihkan lahan gambut yang terdegradasi dan rawan kebakaran seluas 24.000 kilometer persegi. Sejak saat itu, Badan Restorasi Gambut telah menjalankan berbagai intervensi yang berfokus pada pembasahan kembali lahan gambut (melalui pembangunan sekat kanal), melakukan penanaman kembali atau revegetasi, dan melaksanakan program peningkatan mata pencaharian bagi penduduk desa serta memperkenalkan sistem produksi yang tidak melibatkan penggunaan api sebagai alat untuk membuka lahan. Badan ini juga telah membangun ribuan sumur dalam sebagai sumber air yang penting untuk menangani kebakaran lahan yang terjadi. Berbagai upaya ini merupakan langkah maju ke depan yang lebih positif dan telah menunjukkan tanda-tanda .

Efforts to restore degraded peatlands include this 2 ha plot in Riau Province planted with pineapple and equipped with sensors that will help gauge the effectiveness of restoration work. (Credit: Nindita Hapsari)

Apa persamaan antara kebakaran di Indonesia dan kebakaran di Amazon?

Seperti halnya di Brasil, perubahan penggunaan lahan di Indonesia didorong oleh permintaan akan komoditas pertanian seperti minyak sawit, atau kayu untuk kertas dan bubur kayu. Tahun-tahun terjadinya kebakaran ekstrim di kedua wilayah tersebut mengikuti siklus yang sebetulnya dapat diprediksi. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia dan Brasil pada tahun 1997-1998 diperparah oleh kondisi El Nino – di mana musim kemarau menjadi semakin parah – dan merupakan bencana ekologi global. Kebakaran yang terjadi pada tahun 2015-2016 juga diperparah oleh El Nino. Data yang didapatkan dari kebakaran pada tahun-tahun tersebut mengungkapkan bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah perkebunan industri besar dan lahan-lahan masyarakat yang berdekatan, tetapi juga di kawasan lindung seperti Taman Nasional Tanjung Puting dan Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah. Kebakaran yang terjadi di Taman Nasional kemungkinan besar disebabkan oleh api yang berasal dari pembukaan lahan yang dilakukan di sekitar Taman Nasional saat musim kemarau panjang. Dalam kasus kebakaran di Indonesia dan Brasil, sebagian besar kebakaran terjadi di lahan pertanian yang sebelumnya telah dibuka, di lahan terdegradasi, atau di wilayah-wilayah di mana hutan telah ditebang dan dibiarkan kering.

Apa perbedaan di antara kebakaran lahan gambut di Indonesia dengan kebakaran hutan di Brasil?

Lahan gambut Indonesia, yang luasnya 36% dari total lahan gambut hutan tropis dunia, adalah salah satu ekosistem paling kaya karbon di planet ini. Karena tanah yang digenangi air mencegah bahan-bahan organik (daun, akar, ranting, dll.) dari terdekomposisi sepenuhnya, maka sisa-sisa bahan organik tersebut menjadi terakumulasi selama ribuan tahun dan akhirnya membentuk lapisan tanah gambut yang tebal. Ketika dikeringkan, gambut biasanya mengandung karbon di atas 50% – jumlah yang kurang lebih sama dengan (atau sedikit lebih banyak dari) kayu utuh. Jika Anda memperhitungkan seluruh biomassa di atas permukaan tanah di hutan gambut – semua pohon dan segala sesuatu yang ada di dalam hutan –jumlah karbon yang setara dapat ditemukan hanya dalam 35 cm lapisan gambut, sementara lapisan gambut tebalnya seringkali mencapai beberapa meter.

Ketika lahan gambut dikonversi menjadi lahan pertanian (dengan cara menggali kanal – kanal besar yang membuat lahan kering, yang seringkali kemudian dibakar), lahan tersebut menjadi sumber karbon yang sangat besar karena Anda melepaskan karbon yang telah terakumulasi selama ribuan tahun ke atmosfer hanya dalam beberapa minggu saja. Selain itu, berbeda dengan api yang membakar rumput kering dan semak-semak di atas tanah mineral, api di lahan gambut akan terus membara dan menciptakan asap serta polusi udara yang jauh lebih buruk dibandingkan pembakaran biomassa lain pada umumnya. Karena api yang membara ini, sangat sulit untuk mendeteksi dan memadamkan kebakaran di lahan gambut karena suhu api tidak cukup panas untuk dapat dideteksi oleh satelit dan dapat menyebar di bawah tanah. Untuk dapat memadamkan api sepenuhnya, yang dapat kita lakukan hanyalah menunggu hujan turun.

Apa yang ditunjukkan data mengenai cakupan luas dan tingkat keparahan kebakaran?

Ketika Anda melihat kebakaran yang terjadi di Brasil tahun ini, jumlahnya meningkat lebih dari 84% dibandingkan tahun lalu. Tetapi, jika Anda melihat dalam periode yang lebih panjang – dalam dua dekade terakhir – Anda akan melihat bahwa kebakaran di Amazon justru telah berangsur mereda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. (Secara kumulatif, dalam periode tahun 2003-2007 serta 2010, jumlah titik api lebih banyak dibandingkan dengan saat ini.) Jika Anda menggunakan ukuran yang sama dengan yang digunakan di Amazon, kebakaran di Indonesia tahun ini meningkat lebih dari 110% dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi, sekali lagi, jika Anda melihat catatan historis tahun-tahun sebelumnya, kejadian ini mirip dengan yang terjadi di Amazon. Tahun ini adalah tahun yang sangat buruk, terparah ketiga setidaknya dalam satu dekade (dan lonjakan tajam kebakaran yang terjadi pada bulan Agustus dan September memang cukup mengejutkan). Namun, peristiwa kebakaran tahun 2019 ini bukanlah yang pertama kalinya atau yang paling bersejarah.

Cumulative monthly fire count over the past decade for Indonesia (left) and Brazil (right). There was a rapid increase in the number of fires detected in Indonesia for the months of August and September, whereas fires in Brazil have tapered off since the rapid increase in July and August. (Source: Global Fire Emissions Database)

Apa pelajaran yang dapat kita petik dari hal tersebut?

Kebakaran adalah permasalahan yang berkaitan dengan mata pencaharian di seluruh wilayah tropis, yang terjadi setiap tahun. Hal ini berkaitan dengan deforestasi dan merupakan hal yang harus kita perhatikan setiap tahunnya, bukan hanya di tahun-tahun yang buruk. Kita harus memiliki strategi jangka panjang untuk menghadapinya. Kemungkinan besar, kebakaran akan menjadi semakin parah di dunia yang semakin panas.

Apa yang sedang EII lakukan untuk mengurangi bahaya kebakaran di Indonesia?

EII sedang memulai studi kebakaran hutan dan lahan yang membandingkan efektivitas dari berbagai pendekatan pencegahan dan penanganan kebakaran yang diterapkan oleh Indonesia, Brasil, dan Peru. Tujuan kami adalah mendokumentasikan dan menilai berbagai pendekatan pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan gambut tropis yang selama ini diterapkan untuk mengidentifikasi apa yang berhasil dan apa yang tidak untuk kemudian dibagikan dengan lembaga-lembaga pemerintah, perusahaan dan organisasi non-pemerintah yang aktif terlibat dalam masalah ini. Studi ini akan menjadi dasar untuk pengembangan strategi dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah Amazon dan Indonesia.

Apakah Anda melihat peran sektor swasta dalam membantu mengatasi tantangan kebakaran di Indonesia?

Perusahaan-perusahaan yang lebih besar dapat bertanggung jawab atas keseluruhan rantai pasok mereka dengan bekerja bersama masyarakat untuk mengendalikan kebakaran dan mendampingi para petani kecil agar dapat menjalankan praktik-praktik terbaik untuk mendapatkan sertifikasi RSPO. Beberapa perusahaan, yang merupakan bagian dari Aliansi Bebas Api, memanfaatkan kesempatan ini untuk membantu masyarakat setempat dalam mengurangi dan menangani kebakaran melalui skema insentif di tingkat desa, program-program kesadaran masyarakat, dan dukungan untuk pahlawan lokal yang terlibat aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran. Jika ada lebih banyak investasi seperti ini, yang berorientasi pada pemasok dan produsen skala menengah dan kecil, dan lebih banyak kerja sama dengan mereka dalam pencegahan dan penanganan kebakaran, hal tersebut dapat menjadi solusi ke depan ketimbang jika perusahaan-perusahaan memilih untuk hengkang dan mengatakan bahwa risikonya terlalu besar. Sikap seperti itu akan menjadi alasan untuk menjalankan bisnis seperti biasa.

You are donating to : Greennature Foundation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
paypalstripe
Loading...