Apakah Deforestasi Menyebabkan Peningkatan Malaria? Yang Mengejutkan, Ternyata Tidak di Afrika


Oleh Jonah Busch, PhD, Chief Economist, EII;
Sebastian Bauhoff, Assistant Professor of Global Health and Economics,
Harvard T.H Chan School of Public Health

Blog ini merupakan pembaruan atas blog sebelumnya yang telah diterbitkan di situs web Center for Global Development.

Deforestasi ternyata tidak memiliki kaitan dengan meningkatnya prevalensi malaria di kalangan anak-anak di 17 negara Afrika. Deforestasi pun tidak memiliki kaitan dengan meningkatnya kasus demam yang terjadi di kalangan anak-anak di 41 negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Hal yang mengejutkan ini adalah kesimpulan dari makalah kami yang diterbitkan baru-baru ini di World Development.

Artinya, setidaknya di Afrika di mana 88% kasus malaria terjadi, upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dengan mengurangi malaria harus difokuskan pada langkah-langkah intervensi anti-malaria yang telah terbukti bekerja. Intervensi ini mencakup penggunaan kelambu tempat tidur yang telah diberi insektisida, penyemprotan dalam ruangan, perbaikan kondisi perumahan, dan perawatan klinis secepatnya, yang bersama langkah-langkah intervensi lainnya telah berhasil menurunkan tingkat kejadian penyakit mematikan ini sebesar 41% di antara tahun 2000-2015.

Bagi para pendukung konservasi hutan di Afrika, ada banyak alasan baik untuk mempertahankan hutan, termasuk untuk menyimpan karbon, menjaga habitat keanekaragaman hayati, dan menyediakan air bersih di samping berbagai barang dan jasa lainnya. Namun, konservasi hutan mungkin tidak memiliki manfaat anti-malaria, setidaknya tidak di Afrika.

Temuan yang mengejutkan

Temuan ini, ketika pertama kali kami rilis dalam kertas kerja Center for Global Development, mungkin mengejutkan bagi mereka yang mengikuti perkembangan literatur tentang deforestasi dan malaria. Dalam kasus-kasus dengan latar tertentu, sudah dapat dipastikan bahwa deforestasi dapat meningkatkan faktor risiko malaria. Jika dibandingkan dengan hutan, diketahui bahwa lahan gundul memiliki suhu yang lebih tinggi, paparan sinar matahari yang lebih banyak, dan genangan air yang lebih banyak, yang sangat mendukung perkembangbiakan beberapa jenis nyamuk pembawa malaria. Selain itu, jika dibandingkan dengan hutan, lahan terbuka juga memiliki lebih sedikit insektivora sehingga lebih banyak spesies yang bersaing untuk menempati ceruk ekologis, dan lebih sedikit “inang buntu” yang dapat mengurangi malaria. Selain itu, “lokasi baru malaria” dapat lahir dari kondisi sosial-ekonomi yang tidak stabil yang berkaitan dengan deforestasi di banyak wilayah di dunia, termasuk gelombang migrasi besar-besaran, paparan terhadap manusia baru dan imunitas yang rendah, kualitas perumahan yang buruk, dan langkanya layanan kesehatan.

Tetapi, meningkatnya risiko malaria tidak serta merta berarti peningkatan tingkat malaria di kalangan manusia (yaitu, “prevalensi”) karena ada banyak nuansa dalam efek-efek yang disebutkan di atas. Sebagai contoh, daerah yang terdeforestasi mungkin lebih disukai beberapa spesies nyamuk, tetapi tidak yang lain; deforestasi pada umumnya dianggap meningkatkan kepadatan nyamuk pembawa malaria di Afrika dan Amerika Latin, tetapi justru menurunkannya di Asia. Selain itu, banyak faktor lain selain deforestasi yang juga mempengaruhi prevalensi malaria pada manusia, seperti iklim, demografi masyarakat, akses terhadap fasilitas kesehatan, dan perilaku masyarakat dalam menghindari malaria.

Sebelas penelitian sebelumnya, yang telah melewati proses penelaahan sejawat, membandingkan deforestasi dengan prevalensi malaria pada manusia (lihat tabel di bawah). Studi-studi ini pada umumnya menganalisis sejumlah kecil data di tingkat kota dari beberapa negara — tujuh dari Amazon Brasil, dan masing-masing satu kota dari Indonesia, Malaysia, dan Paraguay, serta satu kajian yang membandingkan statistik tingkat nasional di 67 negara. Meski tidak seluruhnya, sebagian besar kajian menemukan bahwa peningkatan deforestasi berkaitan dengan peningkatan malaria. Sehingga, temuan penelitian kami yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara deforestasi dan malaria merupakan suatu kejutan.

Jadi, mengapa beberapa kajian menemukan bahwa deforestasi mengarah pada tingkat malaria yang lebih tinggi di Amerika Selatan dan Asia Tenggara tetapi tidak di Afrika? Penjelasan untuk hal ini, sebagaimana spekulasi dalam makalah kami, mungkin ada hubungannya dengan perbedaan antara bagaimana deforestasi terjadi di Afrika dibandingkan dengan di tempat lain. Deforestasi di Afrika sebagian besar didorong oleh ekspansi pertanian bergilir terus-menerus untuk konsumsi domestik yang telah dilakukan sejak lama oleh petani kecil dalam lingkungan sosio-ekonomi yang stabil di mana malaria sudah menjadi endemik di tengah paparan malaria yang tinggi sebelumnya. Hal ini berkebalikan dengan deforestasi di sebagian besar wilayah Amerika Latin dan Asia yang didorong oleh pembukaan lahan skala besar untuk tujuan ekspor pertanian yang didorong oleh permintaan pasar dan dilakukan oleh para migran baru yang belum pernah terpapar malaria sebelumnya. Kami berharap bahwa hipotesis ini dapat didukung atau disangkal oleh kajian lain di masa yang akan datang.

Bagaimana kami sampai pada kesimpulan ini?

Kami sampai pada kesimpulan kami dengan mengumpulkan sejumlah besar data mengenai deforestasi dan malaria. Kumpulan data yang kami miliki terkait deforestasi meliputi hilangnya tutupan pohon per tahun antara 2001-2015 di 1,5 juta grid-cells  atau seluas ~ 5,5 kilometer di seluruh daerah tropis, sebagaimana dihimpun dari dari Global Forest Watch. Kami pun memperoleh data mengenai hasil tes malaria terhadap sekitar 60.000 anak-anak di pedesaan Afrika dan survei tentang terulangnya demam pada sekitar 470.000 anak-anak di daerah pedesaan tropis yang dilakukan di bawah pengawasan Survei Demografi dan Kesehatan USAID. Kami menggabungkan kedua set data ini ke dalam suatu analisis regresi multivariat yang juga mempertimbangkan suhu, curah hujan, kualitas kondisi perumahan, sumber air, akses terhadap layanan kesehatan, usia anak, dan penggunaan kelambu.

Selain fokus utama kami terkait perbandingan antara deforestasi dan malaria, kami juga menguji hipotesis yang dihasilkan dari kajian-kajian terdahulu. Apakah penebangan dengan skala yang lebih kecil menyebabkan lebih banyak malaria per hektare lahan dibandingkan dengan penebangan dengan skala yang lebih besar? Tidak. Apakah deforestasi memiliki dampak yang lebih besar di tempat-tempat dengan luas hutan yang lebih besar? Tidak. Apakah deforestasi memiliki efek yang lebih besar terhadap terjadinya demam di Afrika dan Amerika Latin daripada Asia? Tidak

Awalnya, kami pun berencana untuk membandingkan efektivitas biaya pencegahan malaria melalui konservasi hutan dengan efektivitas biaya melalui upaya intervensi umum seperti penggunaan kelambu dan penyemprotan, yang diukur dalam disability-adjusted life years (DALY) per dolar. Tetapi, karena deforestasi ternyata tidak mempengaruhi tingkat kejadian malaria, maka nilai manfaat DALY per dolar adalah nol.

Meningkatkan kredibilitas dengan rencana pra-analisis.

Kami telah menduga bahwa temuan kami akan menimbulkan kontroversi, terlepas dari apapun hasilnya. Sebuah studi terdahulu  mengenai deforestasi dan malaria di Amazon Brasil telah menimbulkan banyak perdebatan sebagaimana dapat dilihat pada tautan ini dan ini . Sehingga, untuk meningkatkan integritas dan kredibilitas penelitian kami, kami menggunakan rencana pra-analisis,yaitu dengan terlebih dahulu menuliskan dan memberikan keterangan waktu pada seluruh hipotesis, metode, model, dan variabel yang kami gunakan untuk kemudian menggunakannya sebagai panduan.

Rencana pra-analisis adalah suatu hal yang umum dan bahkan diwajibkan untuk beberapa jenis penelitian klinis. Tetapi, metode ini masih baru dalam ilmu sosial, termasuk ekonomi, di mana praktik penelitian umum seringkali melibatkan pengujian atas sejumlah besar kemungkinan dari kombinasi variabel dan spesifikasi model. Jika penulis dari kajian semacam itu hanya melaporkan tes yang menunjukkan hasil yang menguntungkan dan mengesampingkan hasil dari tes-tes lainnya dengan melemparnya ke tempat sampah digital (“penambangan data” atau manipulasi data untuk memunculkan nilai p yang bagus/”p-hacking“), mereka dapat dikatakan melakukan manipulasi untuk mencapai hasil yang diinginkan, baik sengaja maupun tidak. Hal inilah yang ingin kami hindari dengan menuliskan dan mengikuti rencana pra-analisis. Kami telah mempublikasikan rencana pra-analisis kami di situs web Registry for International Development Impact Evaluations (RIDIE) (tersedia dalam dua bagian, di sini dan di sini).

Kami menawarkan tujuh refleksi tentang penggunaan rencana pra-analisis di blog pendamping, pada tautan ini.